Maafkan aku, ibu…

“Aku tidak ingin menikah dengannya, ibu”. Teriak Naura

“Maafkan ibu, nak. Tetapi ini keinginan ayahmu yang telah menjodohkanmu sejak kecil dengan Rangga, anak sahabat karib ayahmu”. Sang ibu menjelaskan.

Naura menangis tersedu-sedu.

“Tenangkanlah dirimu, nak. Ibu yakin kamu pasti akan bahagia menikah dengannya dan ibu ingin sekali melihat kamu memakai gaun ini besok, pasti sungguh cantik”. Ibu Naura berkata dengan lembut.

Keesokan harinya, rumah Naura telah ramai. Banyak sanak saudara yang turut hadir untuk memeriahkan pernikahannya.

“Naura sayang, kamu sudah selesai ?. Sebentar lagi pengantin pria akan tiba”. Teriak sang ibu dari lantai dasar. Namun, tidak mendapat jawaban.

Sang ibu pun naik ke atas menuju kamar Naura dan ketika membuka pintu raut wajah sang ibu berubah. Beliau menemukan sepucuk surat yang bertuliskan:

“Ibu, ini hari bahagia menurut ibu dan almarhum ayah. Tetapi tidak denganku, bu. Aku tidak mencintai Rangga sebab aku telah memiliki kekasih yang tidak pernah ibu restui.

Maafkan aku , ibu. Aku tidak menjadi anak yang berbakti kepada ibu dan almarhum ayah.

Oh iya, aku telah memakai gaun yang ibu berikan. Aku cantik kan, bu?”.

Sang ibu pun meneteskan airmata melihat Naura yang telah terbujur kaku, menggantung dikamarnya.