Untuk Ibu dan Bapak di luar sana (Bagian 2)

Parenting_LeftHeader

Anak adalah rezeki terbesar yang diberikan yang Maha Kuasa kepada kita. Rezeki itu merupakan titipan untuk kita, jadi ketika kita sudah mendapatkan titipan itu kita harus menjaganya dengan baik. Menjaga dalam artian mengurusi dan membesarkannya penuh dengan kasih sayang.

Bu . . . pak . . .

Mungkin saya belum ada pengalaman tentang mengurus anak sedangkan kalian sudah. Ada yang baik mengurus anak ada yang sama sekali tidak peduli terhadap anaknya. Mungkin persoalan tentang mengurus anak itu banyak tapi sekarang saya tertarik ingin membahas tentang “Pembentukan Karakter Anak”. Saya banyak menemukan kasus baik itu dilingkungan tempat saya tinggal maupun jauh dari lingkungan tempat saya tinggal dengan kasus begini selalu mendidik anak dengan cara KERAS untuk menuruti keinginan orangtuanya sehingga mengesampingkan keinginan anak. Saya memang tidak menguasai ilmu psikologi anak bahkan psikologi yang mendasar pun saya tidak menguasai tapi saya akan mencoba membahas melalui sudut pandang saya.

Jadi begini …

Semua orangtua menginginkan yang terbaik buat anaknya mungkin caranya yang kurang bener sehingga hasilnya menjadi kurang baik. Ada orangtua yang selalu men-doktrin anaknya untuk selalu menjadi yang nomor satu contohnya harus peringkat 1 terus disekolahnya dan ketika mendapat peringkat 2 dimarahin sehingga membuat anak ketakutan dan terpatri dioataknya harus selalu menjadi yang nomor satu dan tidak boleh gagal atau contoh lain ketika ikut kompetisi atau perlombaan sang anak sudah terbiasa mendapatkan juara 1 dan ketika tidak mendapatkan juara lagi atau juaranya bergeser dimarahin abis-abisan. Coba pikirkan, tekanan yang diberikan kepada anak akan berdampak baik atau buruk?

Kadang banyak orangtua yang tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan baik atau buruk akan berdampak terhadap karakter anak. Misalnya tadi seperti contoh yang sudah saya sebutkan diatas, dapat mengakibatkan anak akan tumbuh menjadi pribadi yang egois, keras kepala, tidak memikirkan perasaan orang lain dan menyebalkan di lingkungan tempat sang anak bermain karena yang ada dipikirannya ya hanya dia sendiri, dan harus dia dan selalu dia sehingga tidak mempedulikan teman sekitarnya.

Bu . . . pak . . .

Coba mulai sekarang kita benahi cara mendidik anak, saya tidak bermaksud untuk menggurui tetapi saya sedih ketika harus melihat dan mendengar kejadian seperti ini lagi. Kasian si anak. Jika sang anak memang sudah terbiasa mendapatkan juara pertama atau menjadi primadona di sekolahnya karena kepintaran yang dimilikinya dan suatu saat dia tidak bisa mempertahankan posisinya tolong jangan dimarahi, beri dia pengertian atau yakinkan dia kalau hal itu tidak apa-apa dan tidak membuat orangtuanya marah pasti sang anak tidak akan ketakutan kepada orangtuanya dan mungkin dia akan tumbuh menjadi sosok yang lebih ceria, peka terhadap perasaan orang lain.

Pernah kajadian saya baru masuk SD, Bapak saya selalu bilang saya “nanti kalo sekolah dapet ranking 1 ya nduk” itu membuat saya harus menjadi yang nomor satu dan ketika menerima rapor dan saya hanya mendapatkan peringkat ke 3 saya ketakutan, saya pikir bakal dimarahi ternyata tidak. Saya didudukkan dan diberi pengertian “ga apa-apa ranking 3 uda bagus” orangtua saya memberi pengertian dan tidak menuntut saya walhasil pada catur wulan berikutnya peringkat saya naik dan naik (lagi). Jadi intinya pengertian, dengan dikasih pengertian dan diajakin berbicara dengan penuh kasih sayang mungkin si anak akan tumbuh tidak penuh dengan ketakutan dan tidak takut akan kegagalan. Saya bangga jadi anak Bapak saya, berkat didikannya saya sekolah setinggi ini dan mendapatkan apa yang saya inginkan.

Oke balik lagi ke bahasan awal, sejauh ini saya melihat cara didikan orangtua sekarang (orangtua muda) saya hanya terinspirasi oleh satu ibu muda yang telaten dan ga pernah marah terhadap anaknya. Beliau punya cara sendiri menegur anaknya yang salah tanpa mengacauĀ mood sang anak sehingga anaknya tumbuh menjadi anak yang ceria. Ibu muda yang saya maksud adalah mbak Retno (ig: @retnohening) yang mempunyai anak bernama Kirana. Semoga kelak saya dapat menjadi ibu yang baik buat anak-anak saya. Amin.

Advertisements

2 thoughts on “Untuk Ibu dan Bapak di luar sana (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s