Diamku

Aku diam bukan berarti tak menyimpan rasa
Diamku bukan berarti membiarkanmu pergi begitu saja dengan menghapus semua cerita lama melainkan aku hanya ingin belajar lebih ikhlas menerima segala sesuatu yang telah terjadi dengan melepasmu yang telah menjauhiku sebelumnya

Kamu punya paket yang sangat komplit
Kamu benar tak selalu membahagiakanku, iya tak selalu karena tidak hanya bahagia yang ku rasakan saat bersamamu, sedih, cemas bahkan seburuk-buruknya kejadian telah kita lalui bersama.
Tapi sekarang, aku bisa apa?
Hanya mampu melihatmu dari kejauhan yang tak dapat ku rasakan lagi hangatnya genggamanmu, tak pernah ku dengar lagi celotehanmu bahkan untuk saling bertatap muka pun kita tidak berani. Keadaan sudah berbeda, jari-jari tanganmu yang rajin membelai rambutku kini tak kurasakan lagi, senyummu yang selalu ceria ketika kita bertemu kini telah pudar perlahan.
Tak ada lagi dulu, yang ada hanyalah luka yang diselimuti kebencian
Aku muak merekam jejak seperti ini
Aku benci ketika harus mengikhlaskan sesuatu untuk oranglain. Bahkan diamku pun tak berujung hasil. Melangkahku pun belum tentu menemukan jalan. Hati dan pikiranku tak kemana-mana
Apa aku harus benar-benar pergi? Terlalu letih dengan waktu
Aku tidak mempunyai alasan yang pasti untuk terlibat perasaan yang sebegini pelik kepadamu dan aku juga tidak mempunyai alasan yang pasti untuk menahanmu
Saat ini, kamu hanya terlalu sibuk dengan urusan hati. Mencari-cari sosok yang kamu dambakan, carilah sampai kamu temukan itu
Diam, melangkah dan pergi 🙂 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s