Soul apa kabarmu?

Soul apa kabarmu?

Yah! Aku kehilangan kabarmu setelah kita berpisah. Sebenarnya kata berpisah tidak cocok untuk menggambarkan keadaan kita. Tepatnya, kau menjauh dan semakin menjauhiku.

Banyak hal yang ingin ku bagi denganmu, seperti dulu yang sering kita lakukan. Tapi itu semua hanya dulu yang ga akan ada untuk sekarang ini.

Kau dulu telah mengajariku banyak hal, bahkan tentang dunia yang akan kita lihat bersama nyatanya kita tidak dapat lakukan itu.

Soul….

Aku telah bergerak tapi tidak benar-benar bergerak. Ragaku mungkin telah pergi kemana pun aku mau dan ke tempat yang ingin kau kunjungi dulu tapi jiwaku tidak benar-benar pergi menikmati tempat-tempat yang telah aku kunjungi.

Sepenggal kalimat yang kau ucapkan dulu yang kau bilang hanya sebuah “compliment” yang mungkin tak berarti untukku, masih hangat di pikiranku. Kau salah soal compliment itu, Soul. Aku menganggapnya bahkan lebih dari sekedar yang kau perkirakan dan aku juga salah pada saat itu yang langsung tidak menggubris ucapanmu. Mungkin, jika aku jujur tentang apa yang ku rasakan dulu, keadaan tidak akan serumit ini dan mungkin juga kita tidak akan terlibat perasaan sejauh ini juga. Ah, aku hanya bisa merekam hal-hal yang indah dulu…

Diamku

Aku diam bukan berarti tak menyimpan rasa
Diamku bukan berarti membiarkanmu pergi begitu saja dengan menghapus semua cerita lama melainkan aku hanya ingin belajar lebih ikhlas menerima segala sesuatu yang telah terjadi dengan melepasmu yang telah menjauhiku sebelumnya
Kamu punya paket yang sangat komplit
Kamu benar tak selalu membahagiakanku, iya tak selalu karena tidak hanya bahagia yang ku rasakan saat bersamamu, sedih, cemas bahkan seburuk-buruknya kejadian telah kita lalui bersama.
Tapi sekarang, aku bisa apa?
Hanya mampu melihatmu dari kejauhan yang tak dapat ku rasakan lagi hangatnya genggamanmu, tak pernah ku dengar lagi celotehanmu bahkan untuk saling bertatap muka pun kita tidak berani. Keadaan sudah berbeda, jari-jari tanganmu yang rajin membelai rambutku kini tak kurasakan lagi, senyummu yang selalu ceria ketika kita bertemu kini telah pudar perlahan.
Tak ada lagi dulu, yang ada hanyalah luka yang diselimuti kebencian
Aku muak merekam jejak seperti ini
Aku benci ketika harus mengikhlaskan sesuatu untuk oranglain. Bahkan diamku pun tak berujung hasil. Melangkahku pun belum tentu menemukan jalan. Hati dan pikiranku tak kemana-mana
Apa aku harus benar-benar pergi? Terlalu letih dengan waktu
Aku tidak mempunyai alasan yang pasti untuk terlibat perasaan yang sebegini pelik kepadamu dan aku juga tidak mempunyai alasan yang pasti untuk menahanmu
Saat ini, kamu hanya terlalu sibuk dengan urusan hati. Mencari-cari sosok yang kamu dambakan, carilah sampai kamu temukan itu
Diam, melangkah dan pergi 🙂 
Continue reading